Kekurangan Masjid di Era Modern, Megah Bangunan dan Sepi Kehidupan
Oleh: Dwi Ramadhani
Masjid kini tumbuh megah di berbagai penjuru negeri. Kubah tinggi menjulang, lampu kristal berkilau, dan karpetnya lembut memanjakan langkah jamaah. Namun di balik kemegahan fisiknya, banyak masjid justru kehilangan ruh utamanya, kebersamaan, kepedulian, dan kebermanfaatan bagi umat.
Masjid seharusnya bukan sekadar tempat ibadah ritual, tetapi juga pusat kehidupan sosial dan peradaban Islam. Sayangnya, di era modern ini, peran itu mulai memudar.
Masjid yang Indah, Tapi Hampa Kehidupan Sosial
Di banyak tempat, masjid lebih berfungsi sebagai bangunan simbolik daripada ruang kebersamaan. Kegiatan sosial, pembinaan generasi muda, dan program pemberdayaan jamaah sering kali minim. Bahkan, sebagian jamaah merasa masjid bukan tempat yang ramah bagi semua kalangan, anak-anak sering dimarahi, remaja diabaikan, dan perempuan dipinggirkan.
Padahal Rasulullah SAW. menjadikan masjid bukan hanya tempat sujud, tetapi juga tempat bermusyawarah, menolong fakir miskin, dan mendidik generasi. Ketika masjid kehilangan fungsi sosialnya, maka ia kehilangan jiwanya.
Kepengurusan Statis dan Minim Regenerasi
Banyak masjid dikelola oleh pengurus yang sama bertahun-tahun tanpa regenerasi.
Takmir yang tidak melibatkan anak muda menyebabkan ide dan semangat baru tidak tumbuh.
Anak muda yang mencoba terlibat kadang justru dianggap “kurang pengalaman” atau “terlalu modern”.
Padahal sejarah Islam membuktikan, kebangkitan selalu lahir dari tangan-tangan muda.
Masjid harus membuka ruang bagi generasi berikut untuk belajar memimpin, berinovasi, dan membawa dakwah dengan cara yang sesuai zaman.
Manajemen Masjid yang Kurang Profesional
Di era transparansi dan akuntabilitas, banyak masjid masih dikelola secara tradisional.
Laporan keuangan tidak terbuka, program kerja tidak terukur, dan visi jangka panjang tidak jelas.
Masjid semestinya bisa menjadi lembaga sosial produktif, baik dalam mengelola zakat, infak, dan wakaf secara profesional untuk membantu jamaah yang membutuhkan.
Kurangnya Dakwah yang Menyentuh Hati
Beberapa masjid masih menghadirkan ceramah yang cenderung menghakimi daripada membimbing. Bahasa dakwah yang keras, eksklusif, atau penuh perdebatan malah menjauhkan jamaah. Dakwah seharusnya menjadi cahaya, bukan beban. Masjid perlu menampilkan ustadz atau penceramah dan kegiatan yang menyejukkan hati serta menjawab persoalan umat dengan hikmah dan kasih sayang.
Tidak Terkoneksi dengan Dunia Digital
Di tengah era media sosial, masjid justru tertinggal dalam hal komunikasi. Jadwal kegiatan jarang diumumkan secara daring, tidak ada publikasi di media sosial, bahkan sebagian jamaah muda tidak tahu aktivitas masjidnya sendiri. Masjid yang cerdas adalah yang mampu hadir di dunia digital, menyebarkan konten dakwah yang kreatif, inspiratif, dan membumi.
Saatnya Menghidupkan Kembali Ruh Masjid
Masjid bukan sekadar bangunan suci untuk menunaikan salat berjamaah, tetapi pusat kehidupan umat, tempat tumbuhnya ilmu, kepedulian, dan persaudaraan. Kelemahan masjid zaman sekarang bukan terletak pada kurangnya dana atau kemegahan fisik, tetapi pada kurangnya kesadaran spiritual dan kebersamaan sosial di dalamnya.
Masjid akan menjadi kuat bila:
- Takmirnya amanah dan terbuka.
- Anak mudanya diberi ruang untuk berperan.
- Jamaahnya merasa diterima, bukan dihakimi.
- Programnya hidup dan menjawab kebutuhan zaman.
Ketika masjid mampu merangkul semua kalangan, menebar kasih sayang, dan menghidupkan kembali nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin, saat itulah masjid benar-benar menjadi pusat peradaban yang sesungguhnya.
