Nahdlatul Ulama: Penjaga Tradisi, Pelita Umat di Tengah Zaman – Masjid Al Muhajirin
  • Salurkan infaq terbaik ke rekening BSI 713 229 5535 atas nama Masjid Al Muhajirin | ID PLN Masjid Al Muhajirin 511 440 528 612
Rabu, 29 April 2026

Nahdlatul Ulama: Penjaga Tradisi, Pelita Umat di Tengah Zaman

Nahdlatul Ulama: Penjaga Tradisi, Pelita Umat di Tengah Zaman
Bagikan

Oleh: Dwi Ramadhani

Lebih dari satu abad yang lalu, tepatnya pada 31 Januari 1926 (16 Rajab 1344 H), berdirilah organisasi Islam terbesar di Indonesia yang dikenal dengan nama Nahdlatul Ulama (NU). Didirikan di Surabaya oleh para ulama terkemuka seperti KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, dan KH Bisri Syamsuri, NU lahir sebagai respons terhadap tantangan zaman dan ancaman terhadap tradisi Islam Ahlussunnah wal Jamaah di tengah derasnya arus modernisasi dan kolonialisme.

NU berdiri bukan semata karena politik atau kekuasaan, tetapi karena cinta terhadap Islam dan kepedulian terhadap umat. Ia hadir sebagai payung besar bagi para kiai, pesantren, dan masyarakat kecil agar tidak kehilangan arah dalam perubahan sosial yang cepat.

Tujuan dan Semangat Awal Nahdlatul Ulama

Tujuan utama NU adalah menegakkan ajaran Islam yang berlandaskan Al-Qur’an, Sunnah, Ijma’, dan Qiyas, serta menjaga tradisi keagamaan yang diwariskan ulama salafus shalih.
NU dikenal sebagai gerakan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) yang menekankan keseimbangan antara akal dan wahyu, antara ilmu dan amal, serta antara spiritualitas dan kemanusiaan.

Gerakan ini menanamkan nilai tasamuh (toleransi), tawazun (keseimbangan), tawasuth (moderat), dan i’tidal (keadilan). Inilah yang membuat NU mampu menjaga harmoni di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.

Dari Surabaya untuk Nusantara

Menariknya, NU lahir di Surabaya, tepatnya di rumah KH Abdul Wahab Hasbullah di kawasan Kertopaten, Bubutan. Dari kota inilah semangat kebangkitan ulama menyebar ke seluruh Nusantara. Surabaya bukan hanya saksi sejarah, tetapi juga titik awal pergerakan sosial-keagamaan terbesar di Indonesia.

Kini, hampir di setiap kota dan kabupaten terdapat pengurus cabang NU, lengkap dengan lembaga pendidikan, pesantren, masjid, hingga organisasi sayap seperti Muslimat, Fatayat, Ansor, dan IPNU–IPPNU. Di Surabaya sendiri, NU berkembang pesat dengan berbagai kegiatan sosial, ekonomi, dan pendidikan yang menyentuh masyarakat luas.

Peran Pendidikan dan Sosial NU

Sejak awal berdirinya, NU menjadikan pendidikan dan pengabdian sosial sebagai pilar utama perjuangannya. Pesantren menjadi basis utama pembinaan karakter, tempat lahirnya generasi berilmu, berakhlak, dan cinta tanah air. Selain itu, NU juga mendirikan sekolah-sekolah formal, perguruan tinggi seperti Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA), rumah sakit, dan lembaga zakat yang aktif membantu masyarakat.

NU tidak hanya mengajarkan agama, tetapi juga menanamkan nilai kebangsaan dan kemanusiaan. Di masa kini, NU turut aktif dalam isu-isu digitalisasi dakwah, pendidikan moderasi beragama, dan penguatan ekonomi umat.

NU di Tingkat Lokal: Bergerak dari Akar Rumput

Di tingkat kecamatan dan kelurahan, termasuk di wilayah seperti Wiyung, Surabaya, semangat NU tumbuh dalam bentuk Majelis Wakil Cabang (MWC NU) dan Ranting NU.
Kegiatan yang dijalankan sangat beragam, mulai dari ngaji kitab kuning, majelis dzikir, pelatihan ekonomi umat, hingga santunan sosial bagi masyarakat sekitar.

Gerakan ini menunjukkan bahwa NU tidak hanya besar di tataran nasional, tetapi juga hidup di akar rumput menjadi sahabat masyarakat di setiap lapisan.

Dulu dan Sekarang: NU yang Tetap Relevan

Jika dulu NU lahir untuk membela agama dan menjaga umat dari pengaruh kolonial dan ekstremisme, maka kini NU berperan sebagai penjaga moderasi, persatuan, dan kemanusiaan.
Dengan lebih dari 100 juta warga yang terafiliasi, NU terus menjadi pelita umat di tengah gelombang perubahan global.

NU kini tidak hanya dikenal sebagai organisasi keagamaan, tetapi juga gerakan peradaban, membangun masyarakat yang berilmu, toleran, dan berkeadilan sosial.

Nahdlatul Ulama adalah warisan luhur para ulama yang tidak hanya menjaga Islam dari penyimpangan, tetapi juga menjaga Indonesia dari perpecahan. Dari Surabaya hingga pelosok negeri, NU terus menebarkan cahaya Islam yang ramah, bukan marah; yang merangkul, bukan memukul.

Semoga kita semua dapat meneruskan perjuangan para kiai pendiri NU, dengan cara kita masing-masing: menebar ilmu, kasih, dan kepedulian di lingkungan sekitar.
Sebab NU bukan hanya organisasi, tapi gerakan hati yang hidup di setiap santri dan jamaahnya.

SebelumnyaMuhammadiyah: Dari Gerakan Pembaharuan hingga Pusat Pencerahan UmatSelanjutnyaMuhammadiyah & Nahdlatul Ulama: Dua Sayap Islam Indonesia, Satu Tujuan untuk Umat dan Bangsa
Tidak ada komentar

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Masjid Al Muhajirin
Jl. Karang Klumprik Barat No. XV/7, Kel. Balas Klumprik, Kec. Wiyung, Surabaya, Jawa Timur 60222
Luas Area1000 m2
Luas Bangunan750 m2
Tahun Berdiri10 Mei 1992